Pemuda itu duduk di kursi komputerku. Ia memutar kursi itu dan menghadap aku yang tengah syok dan kebingungan akan keberadaan pemuda itu di kamarku. Aku tidak mengenalnya, tapi… wajah itu… aku pernah melihatnya, dulu…. dulu sekali… Waktu seperti serasa berhenti. Bibirnya bergerak mengatakan sesuatu. Aku membaca gerakan bibirnya.
“Apakah kamu ingin masuk ke dalam dunia ini?” Ia bertanya lalu berdiri dari kursi komputerku. Otakku terasa kosong. Dengan agak takut aku mengangguk. Ia tersenyum, senyum yang mengerikan… “Karakter apa yang akan kamu pakai?” Ia bertanya lagi sambil membalikkan badannya, memegang mouse komputerku yang memancarkan warna biru, lalu menjadi merah dan biru lagi.
“Magician.” Aku menelan ludahku. Entah kenapa aku merasa takut dengan pemuda ini. “Karakter yang belum pernah kumainkan sebelumnya.” sambungku.
“Kalau begitu…” Ia membalikkan tubuhnya. Bola matanya yang berwarna perak sedingin es itu menatapku, namun sekilas aku bisa melihat tatapan sedingin es itu berubah menjadi hangat. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Ia mengulurkan tangannya ke arahku. “Selamat datang.”
Prologue
Kota Glast Heim dulu merupakan salah satu kota termegah di rune migard. Namun sekarang hanya tinggal reruntuhan – reruntuhan bangunan. Perang saudara menghancurkan hampir semua kastil dan bangunan – bangunan yang ada. Hampir semua orang yang tinggal disana meninggal karena serangan dadakan itu. Tragedi berdarah itu membuat orang – orang takut dan juga segan sekaligus membenci Raja Tristam II. Akhirnya, Glast Heim menjadi sarang tempat tinggal para monster – monster.
Awan gelap mulai berputar di langit Glast heim, dan perlahan menurunkan setetes demi setetes air yang membasahi reruntuhan itu. Udara yang awalnya dingin, menjadi semakin dingin. Suasana reruntuhan itu menjadi semakin mencekam. Namun itu tidak membuat seorang knight muda berhenti mengasah kemampuannya.
Hujan membasahi rambut peraknya, tubuh dan armor yang dikenakannya. Ia menengadahkan kepalanya, menatap langit kelam dengan kedua matanya yang berwarna amethyst. Ia menyarungkan pedangnya, menatap sekilas bangkai seekor khalitzbug yang tergeletak tak bernyawa tidak jauh darinya dan berjalan pergi.
Namun langkahnya dihentikan oleh suara yang berasal dari belakangnya dan diikuti sinar yang begitu terang, ia berbalik. Air hujan yang turun perlahan bergerak pelan dan berhenti, waktu telah berhenti. Dari cahaya terang itu, muncul seorang perempuan.
“Rag…na..rok…” Setelah mengatakan kata – kata yang tidak jelas itu, anak perempuan itu pingsan. Knight itu segera menangkap tubuh anak perempuan itu sebelum jatuh ke tanah.
Waktu kembali perputar, hujan kembali turun, membasahi reruntuhan Glast Heim. Untuk sesaat knight itu masih bingung dengan keberadaan anak perempuan yang tiba – tiba saja 'ada' dan mengatakan kata – kata yang tidak jelas. Knight itu menggendong anak perempuan itu di punggungnya dan kembali ke Geffen, mengurungkan niatnya untuk kembali membantai monster – monster di Glast heim.
