Chara : Vermilion [major], etc
Rate: PG-15? [byk darah dan emo]
Disclaimer: Cross Sky Academy (c) Reinance
Putih dan dingin. Anak perempuan dengan rambut merah dan bola mata yang senada dengan warna rambutnya, kedua tangannya yang tanpa sarung tangan menggayung ember kayu yang dibawanya ke dalam sungai yang mulai membeku. Kabut putih tercipta ketika ia menghembuskan nafas. Salju sudah berhenti turun, namun udara masihlah sangat dingin. Kedua tangan kecilnya terasa seperti ikut membeku ketika tangannya ikut masuk ke dalam air sungai. Ribuan jarum seperti menyerang tangannya, anak perempuan itu mendesah pelan sakit. Air sedingin ini, ia masih harus tetap membawanya, demi adiknya. Dengan pelan ia mengangkat ember kayu yang penuh dengan air sungai musim dingin, dan berjalan kembali ke rumahnya dengan langkah yang tertatih-tatih.
Langit sore mulai membiru gelap. Malam sebentar lagi tiba. Suasana hutan terlihat menjadi mencekam di sore yang dingin ini. Vermilion, begitulah nama anak perempuan ini. Tubuh kurusnya hanya terbungkus oleh sweater lama dan balutan pakaian biasa. Tidak hangat sama sekali, tapi setidaknya itu cukup untuk menutupi tubuhnya dari hawa dingin. Musim dingin di Inggris kali ini lebih dingin dibandingkan tahun lalu. Vermilion sedikit bergelidik ketika mendengar suara dedaunan yang bergoyang karena tiupan angin. Ia harus segera pulang. Kedua kakinya mempercepat langkahnya, menelusuri jalan setapak yang akan membawanya kembali ke rumah.
Dari jauh, tampak sebuah rumah kecil yang terlihat kumuh. Ia tinggal di salah satu desa dekat pinggiran kota London. Di dalam rumah kecil itu, ia hidup bersama keluarganya. Rumah yang tidak seperti sebuah rumah. Di malam hari, ia bisa kedinginan sampai giginya gemeletuk, dan harus menahan rasa dingin itu, berusaha untuk tetap tidur. Keluarganya bukanlah keluarga kaya dan bercukupan. Vermilion selalu berpikir andaikan ia lahir di keluarga yang berkecukupan, ia pasti tidak akan perlu bersusah payah seperti ini. Rumah kumuh itu melenyapkan semua pengandaian yang sering terlintas dipikirannya. Ia masih bisa hidup dan makan, itu saja sudah cukup. Tangan kanannya mendorong pintu kayu tua, suara reyot pintu itu seakan menyambutnya kembali. Ada ibu dan ayahnya di dalam rumah. Seperti biasanya, adiknya terbaring lemah di atas tempat tidur.
Sang ibu segera membantu Vermilion, mengangkat ember berisi air dingin tersebut. Lalu memindahkannya ke dalam sebuah tong kayu untuk dihangatkan dengan api. Suara batuk lemah dari adiknya terdengar semakin sering. Sang ayah terlihat duduk bersandar di dinding dengan wajah masam. Pastilah karena biaya obat yang harus mereka beli demi mengobati sakit adiknya itu. Tidak ada yang bisa Vermilion lakukan. Umurnya baru delapan tahun, terlalu muda untuk bekerja. Ayahnya yang seorang pengangkut barang dari desa ke kota. Biaya itu tidak akan cukup untuk menghidupi keluarga mereka, apalagi mengobati si adik. Mereka sudah berhutang banyak dengan tetangga mereka, dan bahkan lintah darat. Semakin hari, pinjaman semakin banyak. Entah kapan, mereka bisa melunasi semuanya.
Kotak biola tua itu tergeletak di atas lemari kecil. Ibunya dulu pernah mempelajari biola, dan Vermilion juga bisa memainkan biola karena diajari oleh ibunya. Hanya satu benda itu yang tidak dijual karena biola tua itu memang tidak memiliki harga lagi untuk dijual. Suara batuk itu terdengar lebih keras dari biasanya, membuat Vermilion menoleh ke arah adiknya. Ice. Begitulah nama adiknya yang sakit-sakitan itu. Rambut perak dan bola mata yang berwarna biru es, nama Ice memang cocok untuk adiknya. Perbedaan kontras antara dirinya dengan adiknya, dengan kedua orang tuanya. Rambut merah Vermilion sepertinya di dapatkan dari neneknya, dan warna bola matanya.. entahlah. Itulah alasan kedua orang tuanya memberinya nama ‘Vermilion’ yang artinya merah. Biasanya, ia dipanggil dengan nama ‘Vermi’ daripada ‘Vermilion’.
Bola mata merah milk Vermilion berputar ke kantung bajunya yang terisi beberapa batang bunga kecil berwarna ungu. Bunga tersebut sering ia jumpai di sekitar sungai. Adiknya berada di dekat jendela, agar sinar matahari lebih banyak menyinarinya. Hanya bagian itu yang lebih hangat dari seluruh bagian rumah yang hanya memiliki satu ruangan tersebut. Tempat khusus itu hanya untuk Ice, adiknya memang memerlukannya agar keadaannya tidak lebih parah. Kedua kaki kecil Vermilion berjalan, mendekat kepada adiknya. Beberapa batang bunga tersebut diletakkannya ke dalam sebuah gelas kayu kecil di meja kecil disamping tempat tidur adiknya. Bunga itu kesukaan adiknya, karena itulah Vermilion sering membawakannya. Wajah Ice yang lemah kembali menjadi sedikit cerah lalu ia tersenyum lemah kepada kakaknya. Tangan Vermilion mengusap-usap kepala adiknya dengan lembut, keduanya tersenyum gembira.
Rumah kumuh kecil dan kotor itu tidak menjadi masalah baginya lagi. Tidak ada yang lebih membahagiakannya selain bersama dengan orang tua dan adiknya. Vermilion sangat menyayangi adiknya itu, sangat. Sebuah senyum lemah terukir di wajah polos adiknya itu. Yang hanya dilakukan oleh kakaknya adalah tersenyum balik. Orang tua mereka hanya menatap dengan pahit. Mereka yang seharusnya tidak perlu mengenal betapa gelapnya dunia, harus segera mengetahuinya dengan paksa. Tidak mengenal umur, tidak mengenal waktu. Terlalu muda untuk mengenal sebuah ‘pengkhianatan’. Sang ayah meneleng kepalanya pelan. Hatinya berkecamuk, menyesali segala ketidakberdayaannya. Sang ibu terdiam, tidak berani mengucapkan apapun. Senja telah berganti menjadi malam tenang dan kelam. Sekali lagi Vermilion harus bertahan di dinginnya malam yang bisa membuatnya terjaga hampir semalaman. Ia tidak pernah menyangka kalau itu akan menjadi malam terakhirnya bersama dengan keluarganya, terlebih lagi kepada adiknya itu.
Sentuhan yang cukup pelan namun segera menjadi kasar mendarat di bahu kecil Vermilion. Segera saja kelopak matanya terbuka. Dilihatnya wajah sang ayah yang lebih masam dari kemarin mengocang tubuhnya, menyuruhnya untuk segera bangun. Seorang pria separuh baya dengan pakaian yang terlihat cukup berkelas menatap Vermilion yang masih mengerjapkan matanya beberapa kali. Senyum tipis terpampang jelas di bibir pria tak dikenal itu. Sang ayah bahkan tidak berani menatap anak perempuannya itu, dan tidak berkata apapun selain menjawab pertanyaan pria separuh baya itu dengan tergagap dan suara gelisah. Hari masih terlalu pagi untuk matahari menampakkan dirinya. Surya masih terlelap di belahan dunia yang lain. Subuh. Tidak ada jam yang menunjukkan waktu pagi buta itu. Bulan masih tampak sabar kelabu di langit yang masih gelap. Sunyi, tenang. Diliriknya sosok adiknya yang masih tertidur lelap itu. Tidak ada ibunya. Di dalam ruangan kecil itu hanya ada ayahnya, Vermilion dan adiknya yang masih tertidur.
Kantung kain yang tampak berisi tersebut berpindah dari pria separuh baya itu kepada ayahnya. Vermilion berdiri dengan payah. Kedua kakinya masih terlalu kaku dan sakit untuk berdiri akibat hawa dingin di malam hari. Tubuh kecilnya sedikit kehilangan keseimbangan namun berhasil berdiri dengan tegak. Rasa nyeri dan sakit menyerang kakinya, Vermilion sedikit meringis. Segera saja, salah satu tangannya ditarik dengan kasar oleh pria paruh baya itu tanpa menunggu protes apapun dari Vermilion. Ia bahkan sudah keluar dari rumahnya. Bola mata berwarna merah darah memantulkan sosok adiknya dari kejauhan yang terbangun karena suara Vermilion. Sang ayah yang hanya berdiri mematung di depan pintu rumahnya yang kumuh itu. Suara kecilnya berteriak, memanggil ayahnya. Tidak ada yang melepaskannya dari pria yang membawanya itu. Vermilion bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hatinya menolak untuk dibawa oleh pria itu, berbahaya. Pintu reyot rumahnya itu perlahan tertutup. Tertutup untuk selamanya. Air matanya mengalir dengan deras, membasahi wajahnya. Jeritannya menggema di subuh yang diam itu.
Mohon komen dan kritiknya! m(_ _)m
