Title: A Promise -That i won't break- ~Chptr 01~ >> Re-Edit
Chara : Rhett [major], Rechieru, Luciano, Alfeo, etc
Rate: PG-15? [Berbahaya krn byk darah dan emo]
Disclaimer: Vongola Indo (c) Tsuzuki
Salju. Bukankah hari itu juga salju turun di tempat ini. Ya, tempat yang memiliki keunikan sendiri. Dan hari itu juga janji itu kuucapkan kepadanya. Sekarang aku berdiri di tempat yang sama, orang yang sama dan salju yang sama. Tapi dengan kondisi yang berbeda. Takdir yang membawa kami untuk bertemu dan takdir pulakah yang akan memisahkan kami? Menyedihkan sekali.
Pemuda berambut biru gelap itu tersenyum pahit. Kepalanya mendongak, bola mata biru safirnya menangkap sosok seorang gadis kecil di depannya. Entah apa yang harus pemuda itu katakan. Keduanya membisu dalam kesunyian. Sementara salju terus turun, menutupi tubuh mereka dengan perlahan. Pemuda itu menengadahkan kepalanya ke langit kelabu yang menurunkan salju.
“..Mengapa? Mengapa harus… kakak..?” sahut gadis kecil itu lirih. Suara gadis itu terdengar kelam seolah menembus hati pemuda berambut biru gelap tersebut.
Ya, mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa kita harus bertemu hari itu? Dan mengapa kita… harus bertemu seperti ini? Menyakitkan, terlalu menyakitkan untuk menghadapi sebuah kenyataan yang harus kita terima. Pemuda itu mengenggam dual sword yang bernama sirius itu dengan erat. Haruskah? Apakah janji itu memang harus ia langgar? Rasanya berat sekali untuk menarik pedang ini, terlalu berat..
Chapter 01 : “A Lonely Wolf.”
Sinar matahari pagi bersinar menerangi sebuah ruang pasien. Seorang suster masuk ke dalam ruangan tersebut, memeriksa keadaan pasiennya yang terbaring tenang di tempat tidur dalam keadaan tidak sadar. Suara pintu tertutup terdengar pelan, suster itu keluar. Kelopak mata pasien itu terbuka secara perlahan. Ia mendapati sosok dingin dan putih di pandangannya yang masih kabur, sebuah langit-langit kamar.
Pemuda dengan balutan perban dimana-mana mencoba untuk bergerak. Tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali, atau lebih tepatnya terlalu sakit untuk bergerak. Nafasnya memburu, seluruh tubuhnya seperti tersetrum dan sakit ketika bergerak sedikit saja. Ia hanya bisa menatap langit-langit kamar yang pucat itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain kembali memejamkan matanya dan beristirahat.
------------------------------
Hari itu, salju juga turun. Rhett berdiri di salah satu gang kosong. Salju perlahan menjatuhkan dirinya dari langit kelabu. Gang tersebut kini sudah penuh dengan butiran kapas dingin itu, menutupi benda-benda yang dihampirinya. Bola mata berwarna safir itu berkilat ketika sekerumunan orang datang. Masing-masing mereka membawa pemukul besi dan berbagai alat lainnya.
“Sudah lama menunggu eh?” tanya salah satu dari kumpulan pemuda yang seumuran dengan Rhett. Wajahnya tersenyum sinis dan mengacungkan pemukul besi ke arah Rhett. Beberapa pemuda disampingnya mulai berjalan mendekati Rhett yang sepertinya santai sekali, seolah tidak terjadi sesuatu yang salah. “..Rhett Eleutherius.”
“Rhett, nama keluargaku tidak ada lagi.” balas Rhett singkat. Kabut putih berkumpul di sekitar mulutnya.
DUKK!!
Beberapa butiran merah menetes mewarnai salju yang berwarna putih itu. Darah mengalir dari kepala Rhett dan menetes turun ke wajahnya. Salah satu kumpulan pemuda itu menghantamkan pemukul besi langsung ke kepalanya tanpa aba-aba tentunya. Yang lainnya tertawa serempak, mengejek ketika Rhett tidak bereaksi apapun.
“..Aku juga tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian.” Kepalan tinju Rhett menubruk wajah pemuda yang menghantamnya tadi dengan sangat keras. Tubuh pemuda itu tersungkur ke tumpulan salju dengan kondisi tidak sadarkan diri. “Ternyata… kalian memang sampah.” Rhett mendongakkan kepalanya, menatap kumpulan pemuda itu dengan sinar matanya yang membunuh dan sebuah senyum sinis tersungging di wajahnya.
Para pemuda itu langsung berang ketika salah satu temannya sudah jatuh. Rhett hanya menatap balik kepada mereka dengan tatapan menantang. Yang lainnya langsung berlari ke arah Rhett dengan masing-masing alat yang akan mereka gunakan untuk memukul dan menghantam tubuh pemuda berambut biru gelap itu. Rhett hanya memicingkan matanya, berkonsentrasi pada apa yang akan dilakukannya setelah ini, menendang atau meninju mereka.
“Lagi-lagi kamu melampiaskannya kepada mereka.” Pria berjenggot tebal itu menghela nafas panjang menatap sosok pemuda dengan luka babak belur disekujur tubuhnya. Pemuda berambut biru gelap itu hanya terdiam dan berjalan pelan. Wajahnya terlihat ia masih berumur belasan tahun, kira-kira 14 atau 15 tahun. “Duduklah disana, aku akan merawat lukamu.” Pemuda itu hanya menuruti kata-kata si bapak berjenggot itu.
Suara percikan api unggun yang berada di perapian lama itu terdengar jelas. Keduanya tidak berbicara. Si bapak hanya merawat luka-luka pemuda itu dengan hati-hati, dan pemuda itu juga tidak berbicara apapun. Di luar, langit sudah mulai mendung dan cuaca juga sudah dingin sekali. Api perapian itu membuat ruangan yang penuh dengan logam, palu, dan alat-alat menempa lainnya menjadi hangat.
“Apa alasanmu melakukan hal ini lagi, Rhett?” tanya pria berjenggot itu membalutkan perban di sekujur lengan pemuda yang bernama Rhett itu. Tidak ada balasan jawaban dari si pemuda. Pria ini kembali menghela nafas. “Kesal? Sedih? Takut? Marah? Ataukah karena peristiwa yang terjadi pada keluargamu?”
“…Semuanya.” balas Rhett singkat. Ia menatap ke direksi lain, mengamati bak kolam yang berisi air dimana logam-logam yang sudah ditempa di celupkan disana. Beberapa palu dan penjepit besi juga masih tergeletak di atas tempat duduk yang sering dipakai oleh pria ini. Ruangannya yang berantakan, tapi Rhett merasa aman dan hangat ketika berada di ruangan ini.
“Melukai dirimu sendiri dan melukai orang lain.” Pria itu mengambil kapas bersih yang sudah dicelupkan ke dalam cairan antiseptik dan membersihkan luka di lutut Rhett. Pemuda berambut biru gelap itu menahan rasa nyeri di bagian lututnya. “Lalu apakah kamu puas setelah melukai orang lain dan lari dari luka di hatimu sendiri?” tanya Pria itu sekali lagi.
Lagi-lagi ceramah yang tidak ingin ia dengar. Rhett kembali terdiam, ia tidak ingin menjawab pertanyaan pria itu. Mengapa semua ceramah dan pertanyaan itu selalu membuatnya merasa tersudut. Kepalanya segera menoleh ke direksi lain. Ya, lagi-lagi ia melarikan diri dan tidak menjawab pertanyaan pria bernama. Pria di hadapannya ini hanya tersenyum samar.
“Tidak ada manusia yang bisa menyembuhkan luka hati manusia yang sudah terluka.” Pria ini menutup kotak yang berisi peralatan untuk merawat luka Rhett dan menatap pemuda di depannya, yang masih menatap ke direksi lain, takut untuk menatap balik kepadanya. “Manusia hanya mampu untuk membuat luka itu terlupakan. Tapi luka itu tidak akan hilang. Ketika masalah yang sama atau mirip datang, luka itu akan kembali terbuka dan berdarah lagi.”
“..Bisakah kamu diam, Alfeo?” Suara Rhett terdengar tajam, namun juga takut. Pria bernama Alfeo ini hanya tersenyum lembut kepada Rhett dan menawarkan mug yang berisi moccacino hangat kepada pemuda yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Rhett menerima mug itu dan meneguk cairan berwarna coklat tua itu.
“Sampai kapan kamu harus melarikan diri? Apakah waktu tiga tahun tidak cukup untukmu? Melakukan apa yang kamu sukai, membiarkan dirimu di luar sana, memukuli orang-orang yang kamu benci.” Alfeo menuangkan moccacino ke dalam mug-nya sendiri dan meneguknya. Kedua tangan Rhett mengenggam erat mug miliknya. Telinganya panas mendengar ceramah Alfeo, tapi ia tahu pria itu berkata benar.
“..Entahlah.” Rhett tidak bisa berkata banyak dan membalas perkataan Alfeo. Memang benar apa yang dikatakan Alfeo. Ia sudah lama sekali melarikan diri dari kenyataan yang sebenarnya harus ia hadapi. Tiga tahun ia habiskan dengan hidup tidak jelas tanpa ada sebuah keputusan.
“Percayalah, apapun yang sudah terjadi dihidupmu sampai sekarang, apapun dan bagaimanapun masa lalumu, tidak ada yang sia-sia. Karena setiap yang kamu lalui itu membentuk kamu sampai saat ini, Rhett.” sahut Alfeo. Ia meletakkan mugnya di sebuah meja kecil, berjalan dan membuka sebuah lemari tua tempat penyimpanan perkakas-perkakas yang sering dipakainya. Sebuah benda panjang yang terbungkus oleh melayang ke arah Rhett. Segera saja Rhett meletakkan mugnya dan menangkap benda tersebut. “Untukmu.”
“..pedang?” tanya Rhett terkejut ketika ia membuka kain yang membungkus benda itu. Ada dua buah pedang yang terbalut di dalamnya. Bagaimana Alfeo bisa membuat pedang dan memberikannya dengan mudah? Rhett menatap heran sekaligus tidak percaya kepada pria berjenggot tebal itu.
“Itu karya terakhirku dan aku tidak akan membuatnya lagi. Namanya Sirius.” Alfeo kembali duduk ke bangku yang didudukinya tadi dan meneguk moccacinonya agar tubuhnya hangat. “Mungkin kamu sudah kehilangan semuanya, tapi ketika kamu menemukannya suatu saat nanti, gunakanlah benda itu untuk melindungi orang yang kamu sayangi.”
“..Orang yang kusayangi.. tidak akan ada.” bisik Rhett datar. Ia membalut kembali kedua pedang kembar itu dengan kainnya dan menghabiskan moccacino yang diberikan oleh Alfeo barusan. Pria ini memang berbeda dari orang-orang yang ditemui Rhett. Pria bernama Alfeo inilah yang memungutnya ketika ia hidup terlunta-lunta di jalanan setelah peristiwa yang terjadi menimpa keluarganya. “..Semoga saja perkataanmu benar.”
Tubuh Rhett terbaring lemah di atas tumpukan salju. Matanya terpejam dan nafasnya memburu. Darah mengalir merembes dari pakaiannya, memberikan warna di atas salju yang putih. Ia bisa merasakan beberapa tulang rusuknya yang patah. Segala rasa sakit rasanya sudah bercampur menjadi satu, ia tidak bisa membedakan perih ataupun nyeri lagi. Tubuhnya merasakan kedinginan yang sangat. Kepalanya berdenyut nyeri sekaligus sakit. Saljupun perlahan turun menutupi tubuhnya.
“Aku belum menemukannya.. orang yang kamu katakan itu, Alfeo.” batin Rhett. Ia bisa merasakan genggamannya yang sudah perlahan melemah. Benda berbalutkan kain itu terlepas dari genggamannya perlahan. “Seperti katamu, aku tidak akan menggunakan benda ini sampai waktu itu tiba. Tapi sepertinya janjiku kepadamu tidak akan terjadi. Akankah aku mati? Dan bertemu dengan mereka lagi?”
Rhett terbatuk pelan. Rasa sakit yang sangat menyerang seluruh tubuhnya ketika terbatuk tadi. Bibirnya tersenyum tipis, dan ia hanya menunggu waktu menjemputnya pergi. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Dan tidak ada yang menolongnya di tengah hujan salju seperti ini. Mungkin memang sudah waktunya ia untuk pergi ke tempat keluarganya yang sudah pergi lebih dulu daripadanya.
-------------------------
Dan beberapa bulan kemudian, pemuda berambut yang berambut biru gelap itu berjalan menelusuri sebuah lorong yang cukup panjang sembari menyapa beberapa anggota ‘keluarga’nya yang ditemuinya di lorong tersebut. Tiga buah ketukan ringan mendarat di ruangan Luciano Cavallone, capofamiglia yang telah menolongnya dulu. Pintu itu bergerak pelan dan terbuka. Pemuda berambut pirang yang merupakan penolongnya duduk di kursinya, dan beberapa anggota keluarga lainnya juga sudah ada di ruang itu.
“Selamat pagi, Sir Luciano.” sapa Rhett sambil membungkukkan tubuhnya. Pandangan matanya mengedar di seluruh ruangan, ternyata sudah banyak anggota keluarga yang sudah berkumpul. Rhett memilih untuk berdiri, di agak pinggir, menunggu anggota keluarga yang lain untuk berkumpul. Ia masih tergolong baru dan usianya juga masih muda, membuat Rhett lebih respek kepada anggota keluarga yang lain.
Luciano Cavallone, pemuda inilah yang akan dilindunginya sebagai wujud balas budi kepadanya karena sudah menolong Rhett yang sudah diambang kematian itu. Rhett memejamkan matanya, ia teringat dengan kata-kata Alfeo dan sebuah senyum tipis tersungging di wajahnya segera.
“Ketika kamu sudah menemukan orang yang kamu lindungi itu, saat itu juga kita tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi.” sahut Alfeo dengan santai. “Tapi, aku akan berada di sini jikalau kamu ingin datang dan bercerita.” sambungnya menepuk kepala Rhett pelan.
End Chapter 01.
- A Promise -That i won't break-

2008-12-05 05:30 am (UTC)
Terus di bagian terakhir pas perkenalan tentang Luciano itu juga timelinenya kurang keliatan. Apa habis dia berkelahi, atau habis keluar dari rumah sakit gitu =3
2008-12-05 05:39 am (UTC)
Iya sih >A>;;, emang agak kacau timelinennya TT_TT *jeduk2 kepala* Sy males ngejelasin lagi sih timelinenya =)) << org males, eh penulis males 8DD